Transisi ke tradisi Literer, konteks visual meninggalkan kebiasaan membaca.

via someone's facebook avatar icon

via someone's facebook avatar icon

Judul postingan blog ini sudah kayak thesis kajian budaya universitas negeri ternama di ibu kota bukan. Stop! Jangan habiskan waktu luw untuk membaca sesuatu yang kira-kira menarik karena sebaris kalimat yang memaksamu melakukan klik dan berakhir di sebuah halaman internet yang isinya cuma sampah.

Internet hari ini terlalu malas untuk berekspresi, 140 character dirasa sudah lebih dari cukup memborbardir dengan pop-up di desktop, iPhone, ataupun Blackberry yang terpaksa terbeli karena alasan gengsi. Tenang, kita tidak sendiri jadi jangan terlalu diambil hati. Keharusan memiliki kekuatan berbagi (to share) sebuah aplikasi berbasis web awalnya adalah sebuah kondisi ideal ketika blog hysteria terjadi. Sekarang kita terlalu sibuk untuk to share others creativity instead of to create ones. Seharusnya kemampuan ini idealnya diciptakan untuk membuat orang terinspirasi untuk menjadi lebih creative tetapi kecenderungannya berubah menjadi kesibukan penegasan identitas sosial yang selalu ter-up-to-date. (*curcol)
Continue reading