Rainan Gumi*

balinse-family Mungkin alurnya sama setiap enam bulan sekali, mencincang daging babi, lawar, beer, penjor, pulang kampung, metatab, maturan mengunjungi nenek, kakek dan sanak keluarga di Karangasem. Tetapi selalu ada pengalaman berbeda, selalu ada rasa yang berbeda.

Galungan selalu menjadi kesempatan kecil kami di rumah untuk bisa berkumpul, bersama-sama mengerjakan sesuatu untuk dinikmati bersama. Kelihatannya sangat sederhana, tapi kesempatan ini sangat berharga. Kami yang sehari-harinya mempunyai waktu yang berbeda karena harus bekerja. Komentar, ejekan, sindiran, pertanyaan dan jawaban mengalir. Duduk berbicara bukan berprasangka. Setiap harinya kami terlalu sombong, lelah dan penat untuk hanya sekedar berbagi cerita. Iya sebuah keluarga. Tidak ternilai. Tidak tergantikan, menjadi salah satu anggotanya harus bertanggung-jawab penuh. Saling melindungi, saling melengkapi. Sampai kapan? Selamanya.
Continue reading