Musik, secangkir sonic kafein untuk kreativitas.

Keberadaan kafein ada di setiap cangkir kopi, teh atau coklat yang kita hirup hangat sebagai obat perangsang legal untuk sistem pusat saraf yang dapat mengusir kantuk walupun bersifat sementara. Senyawa alkoid xantina ini mungkin salah satu senyawa yang mempenganguhi otak manusia. Begitu juga untuk senyawa lain seperti H2O (air) atau mungkin CnH2n+1OH’ (alkohol), tentunya efek yang ditimbulkan juga berbeda-beda. Begitu juga dengan Musik.
Sonic Caffeine
Seorang anak kecil akan bertepuk tangan, mengangguk-angguk ketika mereka mendengarkan alunan musik yang mereka sukai tanpa mereka harus mengerti siapa penyanyinya. Anak-anak secara natural memeliki rasa kecintaan dengan musik, mereka menyukai tune yang bagus yang disertai beat yang energik. Sebagai manusia dewasa kita pernah dan masih terus merasakan bagaimana musik memacu secara instan mood kita, membuat simpul-simpul kenangan di setiap momen hidup. Musik menyembuhkan, musik meningkatkan kualitas intelektual (some of it). Musik membunuh? mengantar seseorang untuk segera mengakhiri hidupnya? OK yang terakhir mungkin masih kontroversial, but hey layaknya senyawa mereka mempunyai efek yang berbeda-beda.

Gelak tawa riang menawan dari wajah wajah rupawan
Celoteh kecil bak burung camar mentariku dan menyuluh damar
Kuterbuai dan terlena suara-suara penuh makna,…

~Dialog Dini Hari~

Seorang musisi memiliki beban tanggung jawab besar terhadap apapun musik yang mereka ciptakan. Sebuah musik mungkin akan mempengaruhi bagaimana sebuah generasi manusia terbentuk? Ada rasa penasaran bagaimana generasi “DAHSYAT” sekarang ini akan berkembang. Music can be friend or foe.

Continue reading

Transisi ke tradisi Literer, konteks visual meninggalkan kebiasaan membaca.

via someone's facebook avatar icon

via someone's facebook avatar icon

Judul postingan blog ini sudah kayak thesis kajian budaya universitas negeri ternama di ibu kota bukan. Stop! Jangan habiskan waktu luw untuk membaca sesuatu yang kira-kira menarik karena sebaris kalimat yang memaksamu melakukan klik dan berakhir di sebuah halaman internet yang isinya cuma sampah.

Internet hari ini terlalu malas untuk berekspresi, 140 character dirasa sudah lebih dari cukup memborbardir dengan pop-up di desktop, iPhone, ataupun Blackberry yang terpaksa terbeli karena alasan gengsi. Tenang, kita tidak sendiri jadi jangan terlalu diambil hati. Keharusan memiliki kekuatan berbagi (to share) sebuah aplikasi berbasis web awalnya adalah sebuah kondisi ideal ketika blog hysteria terjadi. Sekarang kita terlalu sibuk untuk to share others creativity instead of to create ones. Seharusnya kemampuan ini idealnya diciptakan untuk membuat orang terinspirasi untuk menjadi lebih creative tetapi kecenderungannya berubah menjadi kesibukan penegasan identitas sosial yang selalu ter-up-to-date. (*curcol)
Continue reading