in emotions, saylow

Rainan Gumi*

balinse-family Mungkin alurnya sama setiap enam bulan sekali, mencincang daging babi, lawar, beer, penjor, pulang kampung, metatab, maturan mengunjungi nenek, kakek dan sanak keluarga di Karangasem. Tetapi selalu ada pengalaman berbeda, selalu ada rasa yang berbeda.

Galungan selalu menjadi kesempatan kecil kami di rumah untuk bisa berkumpul, bersama-sama mengerjakan sesuatu untuk dinikmati bersama. Kelihatannya sangat sederhana, tapi kesempatan ini sangat berharga. Kami yang sehari-harinya mempunyai waktu yang berbeda karena harus bekerja. Komentar, ejekan, sindiran, pertanyaan dan jawaban mengalir. Duduk berbicara bukan berprasangka. Setiap harinya kami terlalu sombong, lelah dan penat untuk hanya sekedar berbagi cerita. Iya sebuah keluarga. Tidak ternilai. Tidak tergantikan, menjadi salah satu anggotanya harus bertanggung-jawab penuh. Saling melindungi, saling melengkapi. Sampai kapan? Selamanya.

Sampai sekarang kita masih sedikit bergeser ketika yang lain meminta tempat duduk ketika berdampingan, mencomot lauk di piring yang lainnya, mengibaskan serangga dari bajunya, memperhatikan perubahan di tubuhnya. Tambah gendut, tambah item, mulai keriput, banyak uban atau daging tumbuh. Dekat dan akrab.

Di sekitarku waktu berjalan, dulu mereka yang sangat akrab, saling gandongin (gendong) sekarang bermusuhan, dulu mereka tidur berbagi bantal sekarang dipisahkan tembok penyengker (pagar pemisah), dulu mereka yang dekat, sekarang jauh. Dulu mereka yang sehat dan bergembira sekarang sakit.

Lawar* yang sedikit asin tidak menjadi masalah, yang lain menungkasi untuk menambahkan lagi cacahan nangka muda, memberikan kesempatan untuk kesepakatan. Priceless.

Nunas Paswecan Widhi.

Write a Comment

Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.