in design, saylow

Perilaku Sederhana

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “Simpel” diartikan sebagai “mudah dikerjakan atau dimengerti (tidak berbelit-belit) atau lain kata dari “sederhana”. Tapi secara konsep kita sepakat kalau “simple/sederhana” sangat sulit dijabarkan, karena kadang untuk sebuah hal atau produk yang terlihat simpel sangat sulit dikerjakan atau dimengerti.

Sama halnya dengan design website/aplikasi, ketika developer disodorkan sebuah desain mereka tahu desainnya sangat simpel tapi mereka juga sekaligus keluar keringat dingin hanya membayangkan dari mana untuk memulai.

Seperti kata Steve Jobs:

“Sederhana bisa lebih sulit daripada sesuatu yang kompleks: Anda harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Anda harus berpikir secara jernih untuk membuat yang sederhana. Tapi pada akhirnya kerja keras anda sepadan ketika anda sampai di tujuan, hal simple yang anda ciptakan dapat memindahkan gunung.”

*menggunakan quote orang hebat itu penting karena akan sangat membantu kelemahan argumen atas perspektif yang kita ambil.

Energi kita melimpah untuk membuat hal-hal simple yang mencengangkan, tapi kenapa sering dari kita keluar jalur?

Kenapa hal yang simple itu baik tetapi sekaligus kompleks?

Sama halnya dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang dipermukaan kelihatan sangat simple tapi sebenarnya sangat kompleks. Otak kita bekerja untuk mengenali hal-hal baru kemudian membandingkan kesederhanaan suatu hal dengan yang lainnya.

“Simple” dapat dibagi menjadi tiga karakter:

  1. Mudah diprediksi
  2. Mudah diakses
  3. Tersusun menjadi sebuah blok

Kita menyukai banyak hal yang simple karena lebih mudah dipahami otak kita, tidak dibutuhkan kerja extra untuk dapat dimengerti.

Sebuah riset pada tahun 2012 oleh Google dan Universitas Basel menemukan user akan menilai estetika dan fungsionalitas sebuah website dalam waktu 1/20 – 1/50 detik, hampir sama dengan waktu yang kita butuhkan untuk menjentikan jari. Jika lebih dari itu dipastikan website tersebut, kompleks.

Penilaian yang kita buat terjadi begitu cepat, karena lebih sering menggunakan insting dan emosional daripada melakukan penilaian melalui sebuah proses mental. Tapi penilaian ini dilakukan oleh otak kita, hanya saja kadang dilakukan dibawah sadar.

Manusia secara genetik didesain untuk membuat keputusan yang cepat, dan ini terus berkembang/berevolusi dan inilah yang menyelamatkan manusia dari predator di alam liar. Hal ini terus berkembang dengan pengalaman atas rangsangan-rangsangan baru. Untuk membantu membuat keputusan yang cepat ini otak kita menciptakan shortcut berdasarkan harapan atau elemen prototipe.

Contohnya:
“Sebutkan sebuah warna untuk menggambarkan seorang anak perempuan?” Kebanyakan dari kita akan menjawabnya dengan “Pink”. Otak kita tidak secara aktif memikirkan jawabannya, hanya saja jawabannya sudah ada disana. Otak kita sudah membuat banyak jalan pintas sehingga, anak perempuan = pink, sudah menjadi sebuah prototipe di kepala kita.

Prototipe adalah visual dasar ketika otak kita membuat kategori-kategori untuk membuat kita dapat memprediksi suatu hal menjadi simple.

Simple atau sederhana dapat disimpulkan mudah dimengerti dan tidak menunjukan kerumitan, berbeda halnya dengan complexity atau kompleks tidak ada referensi untuk mengukurnya.

E = MC^2 adalah bentuk Einsteins untuk menterjemahkan betapa kompleksnya sebuah kesederhanaa.

There is no such thing as…  “Saya cuma ingin website yang simple saja.” 🙂

Comments

  1. tulisanmu sederahan tapi penuh makna. sungguh aku tak pernah menyangkau kau begitu mempesona. :p

  2. Kata Einstein jg kesederhanaan adalah komplektisitas yang terpecahkan.

    Tulisanmu ini sederhana untuk pemikiran yang kompleks. Mantav, low!