handphone berkamera 3.1 MB Pixel
Ok biar, tambah basbang saya tambahkan…Kacamata Gaya Ber-USB 
Originally uploaded by saylow’s.
handphone berkamera 3.1 MB Pixel
Ok biar, tambah basbang saya tambahkan…Kacamata Gaya Ber-USB 
Originally uploaded by saylow’s.
*thanks to Jatre for having my brain washed by this song,…
Ghetto, Ghetto, Ghetto, Ghetto we livin
[verse one]
These streets remind me of quicksand (quicksand)
When your on it you’ll keep goin down (goin down)
And there’s noone to hold on too
And there’s noone to pull you out
You keep on fallin (falling)
And noone can here you callin
So you end up self destructingtime
Teeth marks on my back from the canine
Dark Memories of when there was no sunshine
Cause they said that I wouldn’t make it
(I remember like yesterday)
Holdin on to what god gave me[chorus]
Cause thats the life when ur
Living in the (ghetto)and
Eating in the (ghetto)or
Sleeping in the (ghetto) (ghetto)
Cause thats the life when ur
Living in the (ghetto)and
Eating in the (ghetto)or
Sleeping in the (ghetto, ghetto, ghetto)[verse two]
No need to cherish luxuries (cause everythin’ come and go)
Even the life that you have is borrowed
(Cause your not promised tomorrow)
So life your life as if everydays’ gon be your last
Once you move forward can’t go back
Best prepare to remove your pastCause ya gotta be willin to pray
Yea There gotta be (there gotta be) a better way oh
Yea ya gotta be willing to pray
Cause there gotta be (there gotta be) a better day (ay)Whoever said that this drama would stop today
A lot of niggers dead or locked away
Teenage Women growing up with aids[chorus]
Cause thats the life when your
Living in the (ghetto) oh
Eating in the (ghetto) or
Sleeping in the (ghetto, ghetto)
Thats the life when ur
Living in the (ghetto)oh
Eating in the (ghetto) or
Sleeping in the (ghetto, ghetto, ghetto)[bridge]
Gun shots every night in the (ghetto)
Crooked cops on sight in the (ghetto)
Every day is a fight in the (ghetto)
(oh oh oh oh oh) (ghetto)
Got kids to feed in the (ghetto)
Selling coke and weed in the (ghetto)
Every day somebody bleed in the (ghetto)
(oh oh oh oh oh) (ghetto)[chorus]
Thats the life when your
Living in the (ghetto)oh
Living by the (ghetto)oh
Eating in the (ghetto, ghetto)
Thats the life when your
Living in the (ghetto)oh
Sleeping in the (ghetto)
Living in the (ghetto, ghetto, ghetto)(wooohhoohh)
Sebuah film karya Nia Dinata dipersembahkan oleh A MILD dan KALYANA FILMS. Sangat menyenangkan mendapat kesempatan untuk menyaksikan Yogyakarta Q Film Festival yang ditutup dengan pemutaran sneak-peak dari film ini dan film ini akan direlease untuk public pada tanggal 13 Juni 2006, yang mana di Jakarta pun premier film ini belum dilakukan dan penutupan Yogyakarta Q Film Festival mendapat kehormatan memutar sneak-peak film ini.
Penuturan perempuan dan poligami lewat Berbagi Suami, begitu headline press release mereka yang aku dapat dari mengfotocopy lebih materinya ketika Jatre meminta tolong aku untuk memperbanyak ketika wartawan yang datang masih ada yang tidak kebagian copynya. Copy-anku hanya kumasukan kedalam backpack, karena aku ingin film ini yang bercerita sendiri padaku bukan dari press lilis. Jatre yang kebetulan menjadi salah satu care-taker Q Film Festival memungkinkan aku menjadi salah satu tamu undangan gelap pemutaran Berbagi Suami. Diputar di Gedung Societed yang memiliki sound sangat minimalis untuk sebuah pemutaran film aku kesampingkan karena ini adalah Yogyakarta the city with no Cineplex 21.
Salma, Siti dan Ming tiga segmen cerita dari Berbagi Suami sangat apa adanya keseharian perempuan yang menjalani kehidupan poligami dari tiga usia, social dan etnis yang berbeda.
Salma (Jajang C Noer) adalah wanita elit berlatar kultur Betawi di usia 50-an, kesan elit ditampilkan oleh Nia Dinata sangat jelas ditampilkan dalam segmen Salma tanpa harus memperlihatkan tangga melingkar sebuah mansion dengan lampu kristal yang menjuntai di kamar tamu seperti sinetron sekarang. Sosok Pak Haji (El Manik) suami Salma segaja dipilih untuk menampilkan dinamisnya sosok Pak Haji yang masih bisa tetap menjadi Pak Haji sekaligus pengusaha, politikus, dan menjadi suami poligami yang menurutnya tidak merubah cara mencintai istri dan anaknya Nadim (Winky Wiryawan).
Siti (Shanty) dari pelosok Jawa berusia 30-an, kalau saja Shanty belum dikenal sebagai artis yang kosmo-girl mungkin wajahnya akan lebih nampak Jawa dimataku di film ini. Siti yang diboyong Pak Lik (Lukman Sardi) sopir crew TV ke Jakarta untuk diberikan pondokan dirumah yang set-nya sangat detail menggambarkan rumah yang sempit, kumuh. Set rumah Pak Lik jauh tampak lebih sempit karena disitu sudah ada dua istri Pak Lik yaitu Sri (Ria Irawan) dan Dwi (Rieke Dyah Pitaloka) dan lusinan anak-anaknya. Dalam set ini bahwa poligami hanya dilakukan orang-orang berada dengan sangat berhasil dipatahkan. Adanya kemungkinkan penyimpangan sex behavior (threesome & lesbian) juga diceritakan dalam set ini. Sosok Sri paling sempurna aku tangkap dalam set ini karena peran-peran Ria Irawan selama ini sangat kental dengan wanita Minak Jinggo (Miring Penak Jengking Monggo).
Ming (Dominique A. Diyose) gadis 19 tahun keturunan Tionghoa, sosok Dominique membuat darah mudaku meneriakan ?Hore!?. Peran Dominique sangat fit-in untuk Ming tanpa terasa timpang ketika menjadi istri simpanan Koh Bun (Tio Pakusadewo) yang sangat senior daripada Dominique. Detail set ini juga sempurna menggambarkan kamar perempuan keturunan Tionghoa yang mengingatkanku dengan teman-teman perempuan keturunan Tionghoa di kampusku dulu yang selalu blink-blink dengan warna, perfect! Toko mie yang kelam tetapi tetap ramai oleh beragam pengunjung begitu apa adanya digambarkan dalam set ini. Kehadiran Ira Maya Sopha sebagai Cik Linda istri Koh Bun mengobati kerinduan penonton dengan Cinderella perfilman Indonesia yang sudah lama tidak nampak. Dalam set ini bahwa poligami hanya dilakukan oleh perempuan yang tidak mandiri, mengesampingkan cinta, membunuh cita-citanya demi materi, dipatahkan. Sisi pemanfaatan tragedy tsunami oleh beberapa kalangan untuk tujuan pribadi, dan penggambaran bahwa sebagain orang yang sangat peduli dan tanggap tanpa harus menjadi banci kamera berkoar-koar di infotainment.
?Saya ingin menyuguhkan cerita yang sederhana saja, dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari, dengan konflik-konflik yang riil dan mudah-mudahan bias lebih membuka mata dan hati kita, saat ini bagi yang sudah menikah, maupun di masa datang, bagi para lajang? tutur Nia Dinata tentang film ini.
Terima kasih sudah membuat film yang sangat-sangat jujur tentang keadaan Bangsa ini yang tidak bisa kita dapat di TV yang memborbardir kita hampir 24 jam dengan sinetron, iya sinetron.
Film wanita yang cantik, dengan wanita cantik, tentang wanita cantik.
Tragisnya menonton pemutaran film ini juga mengacaukan kepulanganku ke Jogja untuk liburan dan bertemu dengan sahabat-sahabatku yang sudah berkumpul, membuat kalian caos, repot, ribet, menunggu, dan terlantar. Maaf.
Salah toket…eh loket
Tanggal muda saatnya bayar tagihan-tagihan,…tumben2xnya bangun jam 6 pagi padahal pengennya mo joging, pas mo ambil sepatu kok ya nge’drop melihat si “eagle” butut kok nggak tega lagi pake buat joging. Takutnya pas udah di jalan malah jebol khan sayang…sepatu itu terlalu vintage buat joging lagian sayang kalau jebol sudah 9 tahun mengabdi.
Akhirnya kaga jadi joging malah balik kedepan komputer. Inget hari ini ini harus ambil loundry, bayar tagihan…
Dengan percaya diri langusng masuk ke Adira Finance, ambil nomor urut 120. Di pengeras suara sudah dipanggil nomor urut 110. Lumayan antri 10. “Nomor antrian 120 silahkan menuju loket 1″
Mbak’e Adira Lengsung Pipit : “Silahkan mas…”
Si Babi : (*menyerahkan kwintasi pembayaran bulan lalu)
Mbak’e Adira Lengsung Pipit : “Elektronik ya mas?” “Disini untuk pembayaran Kendaraan, kalau elektronik kantornya disebarang jalan”
Si Babi : (*sok kwel dan berlalu)
Pengantri Lainnya : (*dalam hati nan bersih : “SWOOOKOOOORR!!“)