Dromme rilis video klip pertama untuk single pertama mereka “Kabut Rasa”

Ini tentang Musik Electronik, bukan tentang Electronic Dance Music atau yang lebih kekinian disebut iDe’eM yang dielukan dengan overplay di minimart-minimart. Kabut Rasa merupakan single pertama dari Dromme sebuah kelompok musik yang secara jujur mengklaim dirinya sebagai pengisi kekosongan genre elektronik di Bali. Lagu ini, “Kabut Rasa” lagu yang dirilis sekitar 5 bulan yang lalu lewat akun resmi soundcloud Dromme bercerita tentang “harapan yang pupus tentang rasa yang gugur oleh kata” ungkap Rika. Dromme adalah Rika di Vocal Jeyra di Programmer/Synth Dan Kharisma di Bass, yang musiknya dipengaruhi oleh musisi-musisi seperti Daughter, Aurora, Banks, Snakadaktal dan HMGNC. Kabar baik lainnya dalam waktu dekat Dromme akan merilis EP pertama mereka yang berisikan 6 lagu, sementara itu ambil posisi dan kita simak klip “Kabut Rasa” oleh Dromme.

Kita Semua Satu di Ubud Writers & Readers Festival 2016

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) untuk ke-13 kalinya akan menjadi arena perayaan ide-ide besar dan kisah-kisah menakjubkan. Festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini memastikan kehadiran lebih dari 160 penulis, seniman, jurnalis, musisi, advokat, dan pegiat untuk berkumpul di jantung seni dan budaya pulau Bali, Ubud, bersama para penikmat sastra dan penggemar seni lainnya dari berbagai belahan dunia.

Sastra Dan Film, Dua Hal Yang Bersisian

Tiga nama besar kesusastraan Indonesia yang dipastikan akan ikut hadir untuk bertukar kisah, ide, dan inspirasi mengagumkan pada tanggal 26 hingga 30 Oktober mendatang, adalah penulis serta wartawan senior Seno Gumira Ajidarma, Eka Kurniawan – penulis sejumlah karya fiksi yang baru-baru ini masuk dalam daftar panjang The Man Booker International Prize, dan Dewi Lestari, salah satu penulis brilian favorit Indonesia yang karyanya telah banyak disadur ke dalam film. Tak dapat dipungkiri bahwa sastra dan film adalah dua hal yang kerap bersisian, maka UWRF tahun ini juga akan menjadi perayaan bagi dunia perfilman Indonesia yang sedang marak-maraknya selama dua tahun belakangan ini. Antusiasme masyarakat akan perfilman Indonesia telah menciptakan luapan karya-karya berkelas dunia. Hadir untuk ikut mengulas perfilman Indonesia adalah sutradara muda Wregas Bhanuteja yang film pendek karyanya, Prenjak, memenangkan Semaine de la Critique di Cannes Film Festival 2016. Selain Wregas, akan hadir juga novelis, penulis naskah, sutradara, dan aktris Indonesia yang karyanya kerap memancing kontroversi, Djenar Maesa Ayu. Joko Anwar, sutradara beberapa film terbaik Indonesia yang pernah dinominasikan di festival film internasional, dan tidak ketinggalan legenda perfilman Indonesia, Slamet Rahardjo.
Continue reading

Perilaku Sederhana

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “Simpel” diartikan sebagai “mudah dikerjakan atau dimengerti (tidak berbelit-belit) atau lain kata dari “sederhana”. Tapi secara konsep kita sepakat kalau “simple/sederhana” sangat sulit dijabarkan, karena kadang untuk sebuah hal atau produk yang terlihat simpel sangat sulit dikerjakan atau dimengerti.

Sama halnya dengan design website/aplikasi, ketika developer disodorkan sebuah desain mereka tahu desainnya sangat simpel tapi mereka juga sekaligus keluar keringat dingin hanya membayangkan dari mana untuk memulai.

Seperti kata Steve Jobs:

“Sederhana bisa lebih sulit daripada sesuatu yang kompleks: Anda harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Anda harus berpikir secara jernih untuk membuat yang sederhana. Tapi pada akhirnya kerja keras anda sepadan ketika anda sampai di tujuan, hal simple yang anda ciptakan dapat memindahkan gunung.”

*menggunakan quote orang hebat itu penting karena akan sangat membantu kelemahan argumen atas perspektif yang kita ambil.

Energi kita melimpah untuk membuat hal-hal simple yang mencengangkan, tapi kenapa sering dari kita keluar jalur?

Kenapa hal yang simple itu baik tetapi sekaligus kompleks?

Sama halnya dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang dipermukaan kelihatan sangat simple tapi sebenarnya sangat kompleks. Otak kita bekerja untuk mengenali hal-hal baru kemudian membandingkan kesederhanaan suatu hal dengan yang lainnya.

“Simple” dapat dibagi menjadi tiga karakter:

  1. Mudah diprediksi
  2. Mudah diakses
  3. Tersusun menjadi sebuah blok

Kita menyukai banyak hal yang simple karena lebih mudah dipahami otak kita, tidak dibutuhkan kerja extra untuk dapat dimengerti.

Sebuah riset pada tahun 2012 oleh Google dan Universitas Basel menemukan user akan menilai estetika dan fungsionalitas sebuah website dalam waktu 1/20 – 1/50 detik, hampir sama dengan waktu yang kita butuhkan untuk menjentikan jari. Jika lebih dari itu dipastikan website tersebut, kompleks.

Penilaian yang kita buat terjadi begitu cepat, karena lebih sering menggunakan insting dan emosional daripada melakukan penilaian melalui sebuah proses mental. Tapi penilaian ini dilakukan oleh otak kita, hanya saja kadang dilakukan dibawah sadar.

Manusia secara genetik didesain untuk membuat keputusan yang cepat, dan ini terus berkembang/berevolusi dan inilah yang menyelamatkan manusia dari predator di alam liar. Hal ini terus berkembang dengan pengalaman atas rangsangan-rangsangan baru. Untuk membantu membuat keputusan yang cepat ini otak kita menciptakan shortcut berdasarkan harapan atau elemen prototipe.

Contohnya:
“Sebutkan sebuah warna untuk menggambarkan seorang anak perempuan?” Kebanyakan dari kita akan menjawabnya dengan “Pink”. Otak kita tidak secara aktif memikirkan jawabannya, hanya saja jawabannya sudah ada disana. Otak kita sudah membuat banyak jalan pintas sehingga, anak perempuan = pink, sudah menjadi sebuah prototipe di kepala kita.

Prototipe adalah visual dasar ketika otak kita membuat kategori-kategori untuk membuat kita dapat memprediksi suatu hal menjadi simple.

Simple atau sederhana dapat disimpulkan mudah dimengerti dan tidak menunjukan kerumitan, berbeda halnya dengan complexity atau kompleks tidak ada referensi untuk mengukurnya.

E = MC^2 adalah bentuk Einsteins untuk menterjemahkan betapa kompleksnya sebuah kesederhanaa.

There is no such thing as…  “Saya cuma ingin website yang simple saja.” 🙂