Para penganut teori konspirasi tidak lagi semuanya anak remaja yang tidak berdosa.

Apa yang membedakan seorang penyendiri polos di TikTok yang membuat konten bumi datar dengan seseorang yang mungkin benar-benar mengangkat senjata dan menembak orang?

Pada Juli 2011 Anders Breivik membunuh 77 orang, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak di perkemahan musim panas di Pulau Utoya di Norwegia. Anders Breivik itu rasis, ya. Tapi begitu juga dengan banyak idiot lain yang tidak pernah melakukan transisi ke teroris pembunuh anak.

Salah satu hal yang membedakan Bravic adalah teori konspirasinya. Dia percaya pada genosida kulit putih atau ideologi “Great Replacement”. Teori konspirasi yang menyatakan bahwa ada sebuah rencana rahasia yang dijalankan oleh orang yahudi untuk menggantikan orang kulit putih di eropa dan amerika utara dengan orang kulit coklat dan orang kulit hitam.

Sekarang masa dimana seorang penganut teori konspirasi menjadi seorang teroris. Kenyataan yang menyakitkan. Mereka bilang mereka anti-rasis tapi kenyataannya mereka adalah anti-kulit putih. Anti-rasis adalah kata kode pengganti untuk anti-kulit putih.

Hal ini telah dilakukan sejak sekitar tahun 1916 ketika seorang Eugenika, Madison Grant menerbitkan sebuah buku berjudul “The Passing of The Great Race”, tapi mungkin buku versi yang paling berpengaruh adalah “White Genocide Manifesto” pada tahun 1970-an yang ditulis oleh seorang Nazi Amerika bernama David Lane, yang akhirnya dipenjara karena perannya dalam pembunuhan seorang pembawa acara radio Yahudi ditahun 1984.

Continue reading

Zio Luncurkan video lirik “See The Sun” untuk hati hati yang tersenyum.


Dirilis Agustus 2017, album perdana Zio bertajuk “See The Sun” masih menjadi daftar putar wajib bagi pendengarnya di kanal-kanal musik digital. SingleSee The Sun” seperti yang diprediksikan menjadi single terkuat di album ini, terlihat dari jumlah putar di Spotify saja sudah didengarkan hampir selama 161.980 jam.

Untuk mengawali album “See The Sun” sebelumnya Zio sudah meluncurkan sebuah video klip dari single “Tak Tersisa” yang kemudian disusul klip kedua untuk lagu “Laguku” diluncurkan pada bulan Januari 2018.

See The Sun
Continue reading

Dromme rilis video klip pertama untuk single pertama mereka “Kabut Rasa”

Ini tentang Musik Electronik, bukan tentang Electronic Dance Music atau yang lebih kekinian disebut iDe’eM yang dielukan dengan overplay di minimart-minimart. Kabut Rasa merupakan single pertama dari Dromme sebuah kelompok musik yang secara jujur mengklaim dirinya sebagai pengisi kekosongan genre elektronik di Bali. Lagu ini, “Kabut Rasa” lagu yang dirilis sekitar 5 bulan yang lalu lewat akun resmi soundcloud Dromme bercerita tentang “harapan yang pupus tentang rasa yang gugur oleh kata” ungkap Rika. Dromme adalah Rika di Vocal Jeyra di Programmer/Synth Dan Kharisma di Bass, yang musiknya dipengaruhi oleh musisi-musisi seperti Daughter, Aurora, Banks, Snakadaktal dan HMGNC. Kabar baik lainnya dalam waktu dekat Dromme akan merilis EP pertama mereka yang berisikan 6 lagu, sementara itu ambil posisi dan kita simak klip “Kabut Rasa” oleh Dromme.

Kita Semua Satu di Ubud Writers & Readers Festival 2016

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) untuk ke-13 kalinya akan menjadi arena perayaan ide-ide besar dan kisah-kisah menakjubkan. Festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini memastikan kehadiran lebih dari 160 penulis, seniman, jurnalis, musisi, advokat, dan pegiat untuk berkumpul di jantung seni dan budaya pulau Bali, Ubud, bersama para penikmat sastra dan penggemar seni lainnya dari berbagai belahan dunia.

Sastra Dan Film, Dua Hal Yang Bersisian

Tiga nama besar kesusastraan Indonesia yang dipastikan akan ikut hadir untuk bertukar kisah, ide, dan inspirasi mengagumkan pada tanggal 26 hingga 30 Oktober mendatang, adalah penulis serta wartawan senior Seno Gumira Ajidarma, Eka Kurniawan – penulis sejumlah karya fiksi yang baru-baru ini masuk dalam daftar panjang The Man Booker International Prize, dan Dewi Lestari, salah satu penulis brilian favorit Indonesia yang karyanya telah banyak disadur ke dalam film. Tak dapat dipungkiri bahwa sastra dan film adalah dua hal yang kerap bersisian, maka UWRF tahun ini juga akan menjadi perayaan bagi dunia perfilman Indonesia yang sedang marak-maraknya selama dua tahun belakangan ini. Antusiasme masyarakat akan perfilman Indonesia telah menciptakan luapan karya-karya berkelas dunia. Hadir untuk ikut mengulas perfilman Indonesia adalah sutradara muda Wregas Bhanuteja yang film pendek karyanya, Prenjak, memenangkan Semaine de la Critique di Cannes Film Festival 2016. Selain Wregas, akan hadir juga novelis, penulis naskah, sutradara, dan aktris Indonesia yang karyanya kerap memancing kontroversi, Djenar Maesa Ayu. Joko Anwar, sutradara beberapa film terbaik Indonesia yang pernah dinominasikan di festival film internasional, dan tidak ketinggalan legenda perfilman Indonesia, Slamet Rahardjo.
Continue reading