Matimu Gupta
Aku iri padamu Gupta, sekarang aku bisa menceritakan padamu betapa hebatnya kamu. Ibumu, dipeluk Ayahmu yang sudah lemas menangis sedari tadi. Adik-adikmu berpegangan tangan sambil bersandar di tembok menatap jasadmu kosong. Pacarmu yang berdada prasmanan itu menangis tersedu-sedu besimpuh, sesekali pingsan tak sadarkan diri. Teman wanitamu yang terobsesi dengan kehidupan mapan gemah ripah loh jinawi yang selalu mendapatkan pacar nan kaya tapi tidak pernah mendapatkan cinta dan hanya menemukannya dalam sosok “kakak” di dirimu-pun menyesali kematianmu, dia baru saja akan memberikan selangkangannya sebagai “adik” yang berbakti. Pacar sahabatmu yang kau tiduri di siang bolong di losmen murah itu juga ada di ruangan itu menunduk, mengenang betapa hebatnya kamu malam itu, dan dia ingin sekali mengulangnya sekali lagi tapi ajal lebih cepat menjemputmu. Sekarang kamu-pun tahu Gupta bahwa memang banyak yang akan menangisi kematianmu. Iya aku-pun menangis karena kamu menang dan memaksaku menceritakan matimu. Mereka mencintaimu…seperti fungsimu, dan tetaplah mati Gupta.
Popularity: 4% [?]
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.





Comments
No comments yet.
Leave a comment